1. Bioethanol

Kerja sama bioethanol antara pemerintah Indonesia dan Brazil

Jakarta, Presiden SBY pagi ini menerima kunjungan kenegaraan Presiden Brazil, Luiz Inacio Lula da Silva. Tiga nota kesepakatan kerja sama dua negara akan ditandatangani dalam kesempatan tersebut.

Menurut jadwal, Presiden da Silva akan tiba pukul 09.00 WIB, Sabtu (12/7/2008) di Istana Merdeka, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta. Rombongan tamu negara terdiri dari 25 delegasi dan 125 pengusaha.
Seusai pertemuan empat mata dua kepala pemerintahan dan antar delegasi, barulah tiga nota kesepakatan kerja ditandatangani. Kerja sama baru yang akan dijalin pemerintah Indonesia dan Brazil adalah dalam produksi bio ethanol fuel, pendidikan dan kemudahan imigrasi untuk pengurusan visa.

Awal pekan ini Presiden SBY dan Presiden da Silva hadir dalam KTT G8 Outreach di Toyako, Hokkaido. Dua negara yang mempunyai wilayah hutan hujan tropis terluas di dunia ini punya hubungan erat dalam upaya mencegah perubahan iklim global.

Terkait upacara penerimaan kunjungan tamu negara, wisata Istana hari ini tidak dibuka. Namun pada Minggu 13 Juli program piknik keliling kompleks Istana Kepresidenan Jakarta kembali buka seperti biasa.

sumber : kilasberita.com/dtc

Ethanol Akan Menjadi Bahan Bakar Standar F1

Tim Formula 1 bersiap-siap untuk memperkenalkan hybrid drive system pada mobil-mobil F1 yang akan digunakan mulai 2009. Sebelum hybrid direalisasikan, tim akan menjajaki penggunaan bahan bakar ethanol.Sejak pertengahan 90-an, tim ahli F1 telah mengembangkan bahan bakar yang memenuhi spesifikasi mesin mobil. Bahan bakar harus memiliki oktan maksimum 102 RON atau setara dengan 97 oktan untuk bahan bakar yang dipasarkan di Amerika Serikat. Tidak heran, seri balap di AS kini sudah menggunakan ethanol dan bahan bakar nabati lainnya untuk mobil-mobil mereka.Seperti diberitakan F1-Live, Tidak lama lagi mobil F1 akan mengadopsi standar bahan bakar yang digunakan pada IndyCar dan American Le Mans yaitu penggunaan biofeuls atau ethanol. Menurut mantan juara F1 14 kali, Emerson Fittipaldi, Chief Executive F1, Bernie Eccelstone, tahun lalu telah menemui beberapa grup penyuplai ethanol di Brazil. Brazil merupakan negara penghasil ethanol terbesar di dunia. Di negara tersebut, mobil-mobil yang dipasarkan sudah memenuhi spesifikasi penggunaan ethanol untuk kadar 200 persen. Bahan dasar ethanol di Brazil banyak dihasilkan dari sari tebu.Bernie menjajaki kemungkinan suplai ethanol untuk beberapa seri F1. Sementara Fittipaldi sendiri memiliki kebun tebu di dekat rumahnya. Ia juga memiliki fasilitas penyulingan tebu untuk diubah menjadi bahan bakar ethanol.

Saat ini setiap mobil yang mengikuti seri balap IndyCar sudah menggunakan ethanol dengan kadar 100 persen. Sementara di American Le Mans Series beberapa tim, termasuk GT1 Corvette C6R, saat ini sudah menggunakan campuran bahan bakar ethanol dengan kadar 85 persen. Sementara mobil lain, menggunakan ethanol setidaknya untuk kadar 10 persen.

sumber : autos.okezone.com

Produsen Enggan Suplai Ethanol ke Pertamina

Jakarta – PT Pertamina (Persero) mengusulkan ke Pemerintah agar patokan harga beli pemerintah untuk FAME dan Ethanol agar mengacu kepada harga BBN Internasional.

“Saat ini produsen/supplier BBN enggan memasok FAME dan Ethanol ke Pertamina, apabila harga patokan masih sama dengan tahun 2009 yaitu rata-rata MOPS plus Rp1000/liter. Makanya, perlu ditetapkan pakai

harga acuan internasional,” kata Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina, Achmad Faisal seperti dikutip dari bahan presentasi Pertamina saat RDP dengan komisi VII, DPR, Kemarin.

Selain soal harga ethanol, hal lain yang perlu dilakukan adalah perlu adanya peraturan pemerintah yang mengatur masalah harga patokan BBN dan mewajibkan kepada produsen untuk menyuplai serta continu kepada badan usaha.

sumber : inilah.com


UGM Kembangkan Karbon Dioksida Jadi Etanol

Yogyakarta, Metanol dan etanol merupakan senyawa alkohol yang paling populer akhir-akhir ini, khususnya di era pencarian sumber energi terbarukan sebagai antisipasi terhadap habisnya cadangan minyak bumi yang diperkirakan terjadi 200 tahun ke depan.

Terkait dengan hal itulah, maka beberapa peneliti dari Jurusan Kimia FMIPA UGM, seperti Prof Drs Jumina PhD, Dr Dwi Siswanta Meng, serta Ir Arief Budiman MS DEng dari jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik, tengah mengembangkan teknologi konversi karbon dioksida menjadi etanol.

Menurut Prof Jumina, pengembangan konversi karbon tersebut dilakukan dengan menggunakan pereaksi Grignard yang diteruskan dengan reduksi menggunakan senyawa boran. Teknologi itu cukup efisien sebagaimana ditunjukkan oleh konversi totalnya yang mencapai 60-70%.

“Sebagai alternatif, etanol juga dapat diperoleh dari karbon dioksida melalui perlakuan dengan pereaksi Grignard diteruskan dengan esterifikasi dan reduksi,” katanya.

sumber : suaramerdeka.com

The First E20 Flex Fuel Sedan in Indonesia

E20 – Bio-Ethanol 20%

Ford merupakan pemimpin perusahaan otomotif global yang senantiasa berkomitmen untuk menciptakan kendaraan dengan bahan bakar alternatif. Ford sangat bangga dapat mendukung tujuan pemerintah Indonesia dalam usahanya untuk melestarikan sumber daya energi melalui berbagai rangkaian produk Ford di Indonesia.

Ford sangat menyadari bahwa konservasi energi merupakan suatu isu yang sangat penting baik di Indonesia maupun secara global. Ford telah memimpin pengembangan teknologi mesin yang lebih efisien dalam hal konsumsi bahan bakar, ramah lingkungan, serta dapat menggunakan bahan bakar alternatif baru, seperti hybrid , biodiesel, gasohol dan hidrogen. Di Indonesia, Ford telah menghadirkan teknologi mesin terkini yang sesuai dengan regulasi lokal mengenai persyaratan tingkat emisi terbaru di berbagai pasar global, termasuk Eropa dan Amerika Serikat. Pemerintah Indonesia melalui Pertamina telah meluncurkan bahan bakar dengan kandungan minyak nabati seperti bio-solar untuk mesin disel, dan bio-premium untuk mesin bensin.

Varian Ford Focus yang tersedia di Indonesia telah dirancang untuk dapat mengkonsumsi bahan bakar bensin dan campuran bio- ethanol hingga 20% dibuat dari berbagai tanaman yang dapat tumbuh subur di Indonesia seperti tebu dan Ubi. Selain Ford Focus yang telah dapat menggunakan ethanol sebagai campuran bahan bakar hingga 20%, Ford juga memiliki Ford Ranger dan Ford Everest yang dapat mengkonsumsi biodiesel dengan kandungan 5% campuran minyak nabati yang kini telah tersedia di Indonesia.

Pengembangan Bahan Bakar Nabati memiliki dimensi sosial dan ekonomi yang secara luas diharapkan akan dapat menggerakkan roda perekonomian di pedesaan, khususnya para petani singkong, tebu, dan jagung yang merupakan bahan baku pokok untuk membuat bio-ethanol, serta petani tanaman jarak pagar dan kelapa sawit yang merupakan bahan baku pokok untuk membuat bio-diesel. Menguatnya roda perekonomian di pedesaan diharapkan dapat menjadi stimulan bagi pemecahan masalah sosial seperti kemiskinan, urbanisasi, dan pendidikan.

sumber : ford.co.id


Ford Gelar Lomba Tulis Bio-Ethanol

PT Ford Motor Indonesia (FMI) mengumumkan dibukanya lomba karya tulis Bahan Bakar Nabati yang diperuntukkan bagi kalangan wartawan, umum maupun mahasiswa. Lomba karya tulis dengan tema: “Bio-Ethanol, Bahan Bakar Nabati untuk Perekonomian dan Ketersediaan Pasokan Energi Indonesia yang Berkelanjutan”.

Lomba ini merupakan salah satu upaya FMI untuk turut membantu usaha pemerintah dalam mengembangkan bahan bakar nabati di Indonesia, khususnya bio-ethanol. Bio-ethanol merupakan bahan bakar nabati yang dibuat dari berbagai macam tanaman yang tumbuh subur di Indonesia seperti ubi, singkong, maupun tebu. Pengembangan bio-ethanol diharapkan akan mampu menjadi alternatif bagi 80% kendaraan bermotor roda empat yang menggunakan bahan bakar bensin, belum termasuk didalamnya kendaraan roda dua yang keseluruhannya menggunakan bahan bakar bensin. Selain itu, pengembangan bio-ethanol sekaligus juga diharapkan dapat menjadi solusi strategis bagi berbagai masalah ekonomi maupun sosial di Indonesia.

Lomba dimulai sejak 18 Desember 2006 dan untuk kategori umum maupun mahasiswa, karya tulis tersebut dikirimkan selambat-lambatnya pada tanggal 1 Maret 2007 ke Ogilvy Public Relations Worldwide/Jakarta, Plaza Bapindo, Lt. 26, Bank Mandiri Tower, Jl. Jend. Sudirman Kav. 54-55, Jakarta 12190, Indonesia. Sedangkan untuk kategori wartawan karya tulis dinilai dari artikel yang telah dimuat dimasing-masing media selambat-lambatnya 15 Maret 2007. Pemenang akan diumumkan pada bulan April 2007.

“Ford adalah produsen mobil yang berkomitmen tinggi dalam hal menyediakan produk-produk kendaraan yang bisa menggunakan bahan bakar alternatif ramah lingkungan. Saat ini seluruh kendaraan Ford yang dijual di Indonesia telah dirancang untuk dapat menggunakan campuran bahan bakar nabati (Bio-pertamax dan Bio-solar). Adalah Ford Focus yang saat ini merupakan satu-satunya kendaraan di Indonesia yang mampu menggunakan bahan-bakar dengan campuran bio-ethanol hingga 20%. Lomba karya tulis ini, kami tujukan untuk menggali pemikiran-pemikiran terbaik dari putra-putri bangsa, dalam usaha untuk turut mensukseskan program pemerintah dalam pengembangan bahan-bakar nabati,” ucap Bagus Susanto, General Marketing Manager, PT Ford Motor Indonesia.

Adapun total hadiah senilai 40 juta rupiah telah dipersiapkan untuk 9 pemenang dari 3 kategori yang dilombakan, ditambah dengan voucher Bio-Pertamax bernilai jutaan rupiah dari Pertamina dan PT Molindo Raya Industrial untuk karya terbaik dari keseluruhan kategori lomba (Best of the Best). Bio-Pertamax adalah produk bahan bakar terbarukan yang baru-baru ini diluncurkan oleh Pertamina, dengan campuran 5% Bio-ethanol yang dipasok oleh PT Molindo Raya Industrial sebagai produsen bio-ethanol terbesar di Indonesia.

sumber : otogenik.com


BRAZIL  BERHASIL MEMIMPIN INDUSTRI BIOFUEL

Brazil dengan industri ethanolnya kini dikenal sebagai negara yang bediri paling depan dalam bisnis biofuel. Bahkan Amerika sebagai negara adidaya, tidak malu-malu mengakui keberhasilan tersebut. Banyak yang menilai bahwa keberhasilan ini sebagai suatu contoh “ kemenangan” negara berkembang atas negara maju pada salah satu isu stretegis dunia di masa depan, yaitu isu energi. Jadi, Brazil kini tida saja menjadi kiblat sepak bola dunia, tetapi kini juga menjadi kiblat pengembangan industri biofuel, yang dimasa depan diyakini sebagai salah satu senjata dalam memenangkan persaingan global.

Menggapainya dengan Jatuh Bangun

Pencapaian Brazil dalam industri biofuel tidak dilalui secara mudah, tetapi melalui proses jatuh-bangun, bahkan mendekati kebangkrutan. Pengembangan biofuel ethanol Brazil pada mulanya diilhami oleh semangat patriotisme kalangan militer, bukan pertimbangan ekonomi apalagi lingkungan. Pemerintahan militer yang berkuasa pada periode 1964-1985, didorong oleh semangat patriotisme, bermaksud mengurangi ketergantungan terhadap BBM yang bersumber dari Timur Tengah dengan harga sangat tnggi pada tahun 1970-an. Untuk itu, pemerintah Brazil mengembangankan program industri alcohol/ethanol sebagai bahan substitusi BBM yang disebut Pro-Alcohol Programme .

Agar program ini dapat terwujud, dua jenis subsidi merupakan intrumen kebijakan yang mendukung. Subsidi jenis pertama adalah subsidi kepada petani yang menanam tebu untuk diolah menjadi ethanol sehingga mereka memperoleh pendapatan yang berimbang bila dibandingkan dengan petani yang tebunya diolah menjadi gula. Subsidi jenis kedua adalah subsidi harga pada stasiun pengisian bahan bakar yang membuat ethanol menjadi lebih murah dari BBM.

Kebijakan tersebut cukup efektif dalam mencapai sasarannya. Industri otomotif di Brazil secara signifikan meningkatkan jumlah produksi kendaraan yang mengunakan bahan bakar ethanol. Puncaknya terjadi pada tahun 1985 dan 1986 dimana sekitar 75% sepeda motor dan 90% mobil dirancang untuk bisa menggunakan campuran BBM-etanhol (Gambar 1). Periode ini boleh disebut sebagai jilid I era kejayaan biofuel ethanol di Brazil.

Sesudah era kejayaan tersebut, industri biofuel di Brazil secara mendadak mengalami masa suram dam terus merosot ke titik nadir. Menurut Plummer (2006), ada empat faktor yang secara simultan menggiring industri tersebut ke titik nadir yaitu:

•  Pemerintah sipil yang mengambil alih pemerintahan militer kurang memberi perhatian pada biofuel sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari ketahanan nasional;

•  Harga gula meningkat tajam sehingga membuat subsidi untuk petani yang tebunya diproses menajdi ethanol menjadi meningkat tajam;

•  Harga minyak terus menurun sehingga biofuel menjadi tidak kompetitif walau dengan subsidi;

•  Perusahaan minyak negara Brazil Petrobras menemukan lading minyak baru di sebuah lepas pantai sehingga Brzil menjadi lebih mampu menyediakan BBM dari dalam negeri.

Dengan perubahan tersebut, kinerja industri ethanol di Brazil secara terus-menerus mengalami tekanan. Walaupun pihak industri menggunakan argumen lingkungan untuk mempertahankan industri tersebut, dukungan terhadap industri tidak dapat dipertahankan. Akhirnya industri ethanol turun ke titik nadir pada tahun 1997, diindikasikan oleh penurunan produksi kendaraan yang menggunakan ethanol menjadi hanya 0.06% dari total produksi (Gambar 1). Situasi suram ini semula diperkirakan akan menamatkan industri ethanaol sebab masa sulit tersebut terus berlanjut sampai dengan awal tahun 2000-an.

Era Kejayaan Jilid II dan Double Switch Mechanisms

Pada kondisi yang hampir bangkrut, Brazil seperti mendapat “ second wind ” atau momentum kebangkitan kembali industri ethanolnya. Beberapa faktor yang membentuk momentum tersebut adalah :

•  Kenaikan harga minyak bumi sejak tahun 2003 dan terus meningkat tajam sampai dengan awal tahun 2006 yang mencapai sekitar US$ 70/barrer sehingga industri ethanol menjadi kembali kompetitif.

•  Upaya penyediaan enegi yang berkesinambungan ( sustainable energy ) yang semakin menggema sehinga langkah antisipasi terhadap isu jangka panjang ketersediaan BBM yang semakin menipis perlu segera diwujudkan. Penyediaan energi alternatif yang berkesinambungan, seperti ethanol, harus sudah dipersiapkan secara dini.

•  Kebijakan keringan pajak otomotif yang menggunakan campuran ethanol. Untuk mobil tersebut dikenakan pajak 14%, sedangkan mobil yang sepenuhnya mengunakan BBM dikenakan pajak 16%.

•  Kecendrungan isu lingkungan yang semakian menguat, khususnya di negara maju ( Eropa , US , dan Jepang) juga turut mendorong/memaksakan sampai jumlah tertentu penggunan energi non-fosil.

Perubahan lingkungan strategis tersebut membuat industri ethanol di Brazil menemukan momentum untuk bangkit kembali. Momentum tersebut menjadi semakin lengkap dengan diterapkannya double switch mechanisms yaitu satu di industri tebu dan satu lagi pada industri otomotif. S witch mechanisms yang pertama terjadi pada industri pengolahan tebu. Pada industri pengolahan tebu, banyak pabrik gula dan pabrik ethanol dibangun secara terintregrasi. Dalam hal ini pabrik tersebut dapat mengolah tebu untuk menjadi gula atau menjadi ethanol, sesuai dengan dinamika pasar gula dan tebu, secara otomoatis. Istilah populernya, dengan men- switch sebuah tombol, pabrik tersebut akan mengubah tebu menjadi ethanol atau gula secara otomatis.

Switch mechanisms yang kedua terjadi pada industri otomatif yang merupakan dampak langsung dari sistem insentif perpajakan yang bias pada otomotif yang menggunakan bahan baku campuran. Insentif tersebut mendorong lahirnya mobil mobil generasi baru tahun 2003 yang dikenal sebagai flexi-fuel car . Flexi-fuel car tersebut dapat memakai bahan bakar yang murni ethanol, murni BBM, atau campuran keduanya. Ketika tangki mobil tersebut diisi bahan bakar, sebuah chip komputer di tangki mobil tersebut akan menganalis komposisi antara ethanol dan BBM dan selanjutnya “mengarahkan” mesin bekerja berdasarkan komposisi tersebut.

Ketika mobil tersebut memasuki pasar tahun 2004, pangsa pasarnya mencapai 17%. Pada tahun 2005, pasar mobil tersebut tumbuh pesat dengan pangsa pasar mencapai 53.%, langsung melampui pangsa pasar mobil konvensional. Bahkan pada akhir Desember 2005, sekitar 183 600 kendaraan atau lebih dari 70% yang dibeli adalah kendaraan flexi-fuel car . Pada masa mendatang, sekitar 95% dari kendaraan yang akan diproduksi adalah flexi-fuel car (Philips, 2006).

Dengan situasi yang kondusif tersebut, upaya Brazil untuk terus memimpin pasar bio-fuel tampaknya tidak akan banyak mengalami hambatan pasar, baik di pasar domestik maupun pasar internasional/ekspor. Secara keseluruhan, bahan bakar ethanol sudah mencapai sekitar 33% dari seluruh bahan bakar yang digunakan di Brazil dan akan terus meningkat sejalan dengan perkembangan flexi-fuel car yang ditargetkan mencapai 95% dari pasar otomotif. Dengan harga yang hanya sekitar 60% dari harga BBM, target tersebut akan dengan relatif mudah dapat diwujudkan. Industri ethanol juga berkembang karena permintaan ekspor yang terus meningkat dan tahun 2005 telah mencapai sekitar 2 miliar liter, menempatkan Brazil sebagai eksporter terbesar. Pada tahun 2010, untuk memunuhi permintaan domestik dan ekspor, produksi diharapkan mencapai 10 miliar liter. Brazil tampaknya potensial mewujudkannya karena didukung oleh sumberdaya lahan yang luas, curah hujan yng cocok, iklim, dan pengalaman (Philips, 2006).

Dengan kondisi sumberdaya alam, ekonomi, sosial budaya, dan kondisi politik yang banyak memiliki kemiripin dengan Brazil , Indonesia sebenarnya berpeluang untuk mengikuti jejak Brazil tersebut. Kesigapan dan konsistensi kebijakan pemerintah untuk mendukung program tesrebut dan visi jauh kedepan dari para pengusaha, akan sangat menentukan keberhasilan untuk mewujudkan hal tersebut di tanah air kita tercinta.

Sumber: Plummer (2006)

References

Philips, T. 2006. Brazil ’s Biofuel Success Strory, Mail Guarddian Online, http://www.mg.co.za/ , 27 Februari 2006.

Plummer, R. 2006. The rise, fall and rise of Brazil ’s biofuel, BBC News, http://news.bbc.co.uk/2/hi/business/4581955.stm , 24 Januari 2006.

sumber : ipard.com


Pabrik Bio-Ethanol Berbasis UKM Dioperasikan di Kebumen

Harga Jual Bio-Ethanol Setara Minyak Tanah Masih Menunggu Pemerintah
Senin, 26 Mei 2008 | 14:23 WIB
KEBUMEN, SENIN – Pabrik pengolahan bio-ethanol berbasis usaha kecil menengah (UKM) mulai dioperasikan di Desa Munggu, Kecamatan Petanahan, Kabupaten Kebumen, Senin (26/5). Pabrik yang dijalankan oleh PT Bio Prima Energi Mandiri itu dapat menghasilkan 3.000 liter bio-ethanol setiap harinya dengan menggunakan bahan baku tebu, jagung, dan singkong.
Direktur Utama PT BPEM Dani Hidayat mengatakan, untuk saat ini hingga Juni mendatang pihaknya masih menggunakan bahan baku tebu yang dipasok dari Perkebunan Pabrik Gula Madukismo di Yogyakarta. “Baru bulan Juni besok, kami akan menggunakan jagung sebagai bahan baku bio-ethanol. Saat ini kami masih menggunakan tebu yang sudah jelas pasokannya dari Madukismo,” katanya.
Bahan baku pembuatan bio ethanol itu, lanjutnya, bisa berganti-ganti sesuai persediaan yang ada di pertanian. Namun untuk Kebumen, diupayakan akan menggunakan jagung secara optimal. “Kalau tebu sudah tak panen, bisa diganti dengan jagung. Begitu juga kalau jagung dan tebu sedang tak panen, bisa digantikan dengan singkong,” katanya.
Dalam sambutannya, Bupati Kebumen, Rustriningsih, mengatakan, Kebumen memang memiliki potensi yang cukup besar untuk pertanian jagung. Setiap tahun, jumlah panen jagung di seluruh Kebumen mencapai 27.000 ton, sedangkan untuk Kecamatan Petanahan sendiri berkisar 3.262 ton.

Selain jagung, wilayah Kebumen bagian utara juga memiliki potensi pertanian singkong yang cukup luas. “Karenanya, kami mengharapkan agar pabrik ini tak hanya menggunakan bahan baku jagung, tetapi juga singkong. Dengan demikian, perekonomian masyarakat petani di Kebumen bisa meningkat,” katanya.
Dikatakan Dani, setiap hari pabrik yang dikelolanya membutuhkan 5 ton jagung per hari atau 1.500 ton jagung setiap tahunnya. “Karena itu meskipun hanya berbasis UKM, pabrik kami dapat menyerap tenaga kerja hingga 1.200 orang dari kalangan petani. Sebaliknya tenaga kerja yang mengoperasionalkan pabrik hanya 23 orang, dan seluruhnya dari Kebumen,” katanya.
Namun sejauh ini, menurut Direktur Marketing PT BPEM Sugeng Haryanto, produksi bio-ethanol masih dipasok untuk kebutuhan PT Pertamina karena kadarnya baru mencapai 85 sampai 90 persen. Setiap liternya dijual seharga Rp 5.500. “Setelah diolah di Pertamina, bio-ethanol itu akan menjadi bensin sekelas premium hingga pertamax,” katanya.
Selain PT Pertamina, lanjutnya, PT BPEM juga mengolah bio-ethanol menjadi bensin siap pakai di dua unit pabrik serupa di Jakarta. “Dua unit pabrik di Jakarta sudah bisa mengolah bio-ethano menjadi bensin, namun kapasitas produksinya masih kecil sekitar 2.000 liter per hari,” ujarnya.
Untuk bio-ethanol setara minyak tanah pun, menurut Sugeng, sebetulnya pihaknya sudah dapat memproduksinya. “Penggunaannya jauh lebih irit dibandingkan minyak tanah, dan bahkan kompornya pun sudah disediakan. Produknya berupa bio-ethanol gel. Penggunaan untuk setiap 200 cc bio-ethanol, setara dengan satu liter minyak tanah. Hanya hingga saat ini, kami masih menunggu ketetapan harga dari pemerintah,” tuturnya.

sumber : wisiso.blogspot.com


Banten Institute for Social Transformation

(NGO)

Bioethanol adalah salah-satu BBN ( Bahan Bakar Nabati ) yang sedang ngetren.BBN ini merupakan etanol yang diproduksi dari tumbuhan, biasanya darijagung, singkong, tebu atau pohon jarak. Penggunaan bioethanol secaraterus menerus akan mereduksi secara bertahap ketergantungan terhadapbahan bakar fosil. Disamping itu selain berperan untuk untukmensubstitusi BBM, BBN juga dapat mengurangi emisi CO2 yang berpotensimempercepat perubahan iklim. Denganmelimpahnnya lahan-lahan kosong yang tidak tergarap, ditambah banyaknyatenaga kerja dari sector pertanian, sebenarnya dengan program yangterintegrasi antara institusi pertanian dan pengelola energi yangmelibatkan semua stakeholder terkiat seperti petani,bank, industri pengolahan, distributor, para peneliti dilembagalitbang, penyuluh, pemerintah daerah, maka semuanya akan termanfaatkan.

Deploment UMKM oleh Banten Institute for Social Transformation telah melakukan uji Teknologi Tepat Guna Terhadap Bahan Baku Nira Aren sehingga potensi nilai harga jual produk ini mulai diminati, Pohon aren selain produknya dapat dibuat gula aren ternyata gula aren adalah unsur bahan baku untuk formula pembuatan etanol, bagaimana industri ini mulai merangkak di banten, pengembang ide cemerlang ini di mulai dari Lembaga NGO transformasi untuk Banten. bukan itu saja kini BaIST ( Banten Institute for Social Transformation Memiliki Pabrik Produksi Etanol di malimping bersama masyarakat untuk peningkatan ekonomi yang lebih baik memangkas sedikit kemiskinan di daerah yang tertinggal lewat produk masyarakat, pengembangan lain yang dilakukan BaIST adalah mencermati Bahan Bakar Konversi Minyak Gas Ke etanol, kini BaIST menggalangkan Kompor Etanol. Komentar Ibnu ” Divisi Ekonomi Banten Institute for Social Transformation Mengatakan” Bio Etanol juga dapat dijadikan Bahan Bakar Kendaran Bermotor dengan perbandingan dimana : BENSIN premium memiliki angka oktan 88. Tetapi bensin premium bisa ngejos seperti pertamax dengan tambahan etanol 99%, karena etanol memiliki angka oktan 117. Caranya, campurkan sekian persen bensin premiumdengan sekian persen etanol. Misalnya campuran 1 : 9, di mana 10%etanol dtambahkan ke 90% premium. Ambil 10 ml etanol dengan 90 mlpremium menjadi 1 liter bensol (bensin – etanol), maka angka oktan menjadi 10% X 117 + 90% X 88 = 90,9 atau mendekati pertamax. Pencampuranantara premium dengan etanol bisa dilakukan dengan rasio yang berbeda.Hanya saka diperlukan kehati-hatian untuk kendaraan berumur di bawahtahun 2000. Etanol memiliki sifat melarutkan karet, sehingga mengancamkekuatan Luar Biasa…

sumber : grahanusantarabanten.webs.com


Produksi Ethanol Skala Home Industry

Bahan Bakar Minyak yang bersumber pada cadangan deposit minyak bumi secara perlahan namun pasti akan terbatasi karena kelangkaannya. Kelangkaan bahan bakar yang berasal dari fosil tersebut sejalan dengan tingkat kemakmuran dan kesejahteraan manusia, perkembangan produksi industri dan otomotif tidak dibarengi dengan ketersediaan bahan bakar yang terbarukan.Beberapa solusi saat ini yang sedang dan sudah dikembangkan adalah energi alternatif yang berasal dari banyak sumber yang ketersediaannya melimpah dan berasal dari alam, seperti energi solar cell, energi angin, energi air permukaan, energi ombak laut, energi panas bumi, energi BBN (Bahan Bakar Nabati) dsb.

Ethanol, sebagai Bahan Bakar Nabati yang diperoleh dari proses destilasi bahan yang sudah ter fermentasi merupakan salah satu alternatif pilihan menggantikan BBM (bahan Bakar Minyak). Pemilihan dan pemakaian material ini tidak lepas dari pertimbangan, mudah dan bisa diproduksi sebagai bahan bakar terbarukan, mudah handling dan pendistribusiannya, pemakaian bahan bakar jenis ini relatif tidak banyak mengubah struktur mesin yang sudah ada. Bio Premium yang dipasarkan oleh SPBU-SPBU Pertamina saat ini adalah campuran 20% Ethanol dan b0% premium, pengembangan untuk pemakaian Ethanol dalam komposisi yang lebih besar sedang dalam tahap penelitian.

Ethanol, sebagai Bahan Bakar Nabati, relatif mudah dan murah diproduksi, mengingat bahan baku yang digunakan untuk memproduksi Ethanol beragam, sehingga bisa dikelompokkan menjadi kelompok bahan mengandung Gula, Kelompok bahan mengandung Pati dan kelompok bahan mengandung hijau daun. Dari 3 pilihan bahan baku diatas, kelompok bahan mengandung gula lebih praktis prosesnya, kelompok bahan yang mengandung pati dan hijau daun mesih membutuhkan tambahan proses fermentasi untuk menimbulkan alkoholnya.

Proses produksi Ethanol, juga tidak sulit dengan teknologi sederhana, modal terjangkau serta didukung oleh ketersediaan bahan baku yg melimpah, Ethanol bisa diproduksi ditempat tersebut. Untuk lokasi yang berdekatan dengan pabrik Gula (PG) dimana tetes gula, yang merupakan limbah produksi gula yang dihasilkan pabrik, untuk mendapatkan tetes bukanlah hal yang sulit . Dengan rendemen, 7 liter tetes bisa menghasilkan 1 liter Ethanol dengan kadar 85 – 95 %, Dengan modal awal untuk menyediakan sarana produksi, sekitar Rp.50 juta, untuk alat produksi, bahan baku dan tenaga kerja, dan dengan produksi 70 liter per hari, dengan harga jual ethanol Rp.10.000/liter ditempat, produsen akan mengantongi kotor Rp. 10.000 x 70 x 25 hari = Rp.17.500.000 / bulan

Sebenarnya bukan nilai rupiah yg diharapkan, pasti akan jadi pemandangan yang indah, bila suatu saat, untuk mengisi bahan bakar sepeda motor, kita tidak perlu ke SPBU Pertamina, kita cukup ke belakang rumah,tempat ethanol diproduksi

sumber : kulinet.com


Ternyata etanol Into Food-Grade Alkohol

AMES, Iowa – Sekarang telah menjadi umum etanol gas tank, dua profesor Iowa State University sedang bekerja untuk mendapatkannya ke gelas martini.

Para profesor yang meneliti cara mudah, dan murah, mengubah bahan bakar etanol ke dalam makanan-grade alkohol untuk digunakan dalam minuman, farmasi dan produk-produk perawatan pribadi.

“Kami akan mengambil relatif melimpah dan murah bahan bakar etanol, dan jumlah yang sangat kecil (uang) menambahkan banyak nilai ke sana,” kata Jacek Koziel, asisten profesor teknik pertanian dan biosystems.

Dia mengatakan penelitian difokuskan pada teknologi yang menyempurnakan memurnikan bahan bakar etanol, alkohol biji-bijian yang paling sering dibuat dari jagung dan digunakan sebagai aditif bensin.Seperti minuman alkohol, bahan bakar etanol adalah ragi-difermentasi dan kemudian disuling. Namun, memiliki banyak kotoran yang harus dihapus, Koziel kata.

“Kami mencoba untuk fine tune, sehingga untuk berbicara, proses pemurnian alkohol,” katanya.

Mengapa digunakan untuk menemukan etanol lain pada saat permintaan untuk bahan bakar terus meroket?

Karena sementara permintaan untuk bahan bakar etanol dapat memudar jika industri otomotif mencakup teknologi lain, “permintaan akan minuman keras dan pencuci mulut, dan obat batuk akan selalu berada di sana,” kata Hans van Leeuwen, seorang sipil, konstruksi dan profesor teknik lingkungan yang bekerja dengan Koziel pada proyek

“Kami benar-benar hanya melihat sebuah proses perbaikan di sini yang akan menyelamatkan banyak uang,” kata Van Leeuwen, yang juga menjabat sebagai Vice President of Cedar Rapids berbasis MellO3z, sebuah perusahaan yang telah menciptakan sebuah proses untuk memurnikan minuman beralkohol.

Monte Shaw, juru bicara Iowa Renewable Fuels Association, mengatakan masa depan makanan-alkohol grade etanol yang dihasilkan dari bahan bakar tergantung pada profitabilitas. Saat ini, etanol digunakan dalam campuran bensin dalam permintaan, tetapi sebagai tanaman lebih banyak dibangun dan produksi naik, produsen dapat mengambil keuntungan dari kemampuan tambahan makanan dan mengubah etanol grade ke bisnis premium, katanya.

“Jadi hari ini bahwa tidak mungkin bunga tinggi, tapi kita punya banyak produksi datang on line,” kata Shaw Kamis, saat dia pergi ke sebuah terobosan dari pabrik etanol baru di St Ansgar, Iowa. “Ini bukan masuk akal untuk mengasumsikan beberapa waktu di masa depan bahwa sesuatu seperti ini mungkin sangat menarik. “

Pekerjaan pendahuluan pada upaya dimulai tahun lalu, dan 1 proyek 1/2-year _ yang menggunakan gas ozon dan proses penyaringan karbon _ baru-baru ini diluncurkan. Pendanaan berasal dari $ 79.900 hibah dari negara Grow Iowa Values Fund, dengan pencocokan dolar dan bahan-bahan dari sponsor dan pakar industri.

Iowa, negara atas petani jagung, telah menjadi pemimpin dalam industri etanol dengan 25 tanaman menghasilkan sekitar 1,6 miliar gallon tahun ini dan delapan lain tanaman dalam proses pembangunan atau ekspansi, menurut Iowa Renewable Fuels Association.

Kunci usaha adalah harga.

Van Leeuwen said the multiple distillations needed to make food-grade alcohol raise production costs by about 50 cents per gallon more than it costs to make ethanol. Van Leeuwen mengatakan beberapa distillations diperlukan untuk membuat makanan-grade alkohol meningkatkan biaya produksi sekitar 50 sen per galon lebih banyak daripada biaya untuk membuat etanol. Sistem yang tim ISU bekerja pada pemurnian bertujuan untuk menempatkan biaya kurang dari satu sen per galon, kata dia, seraya menambahkan bahwa proses pemurnian penyesuaian biaya akan sedikit untuk pabrik etanol.

“Ini jenis hal yang akan membayar untuk dirinya sendiri berkali-kali dalam setahun,” kata van Leeuwen.

Koziel mengatakan ada banyak potensi aplikasi untuk produk.

“Ini bukan hanya berarti konsumen jenis minuman keras alkohol” yang manfaat, katanya. “Ini bisa digunakan untuk segala macam produk-produk konsumen lainnya … di mana-mana di mana makanan-alkohol kelas dihukum bisa digunakan.”

Tetapi bagi mereka yang suka minuman keras mereka, van Leeuwen mengatakan makanan-grade etanol “rasanya seperti vodka,” meskipun bukti 190-produk harus diencerkan. Dia bilang dia mencicipi host satu panel dengan hasil positif, dan rencana lain setelah penelitian lebih lanjut.

Para ilmuwan ISU penyucian menggunakan dua teknologi untuk sistem mereka. Bagian pertama menggelegak ozon melibatkan gas melalui bahan bakar etanol untuk menghilangkan kotoran dan untuk membentuk senyawa baru, yang kemudian disaring melalui butiran-karbon aktif untuk menyerap kotoran yang tersisa.

Sebuah paten untuk proses yang tertunda.

Van Leeuwen mengatakan dia menggunakan proses untuk mengobati air limbah dengan sukses, dan mengharapkan hasil yang bagus untuk makanan kelas alkohol.

sumber: foxnews.com

`

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 54 other followers

%d bloggers like this: